Indeks

570 Mahasiswa Universitas Galuh Jalani KKN di Pangandaran, Fokus Konservasi, Budaya, dan Pemberdayaan UMKM

570 Mahasiswa Universitas Galuh Jalani KKN di Pangandaran, Fokus Konservasi, Budaya, dan Pemberdayaan UMKM
Asda III Setda Kab Pangandaran Asep Haris saat melepas 570 Mahasiswa Universitas Galuh di lapangan alun-alun Parigi, Selasa, 23 Juli 2026.

PANGANDARAN – Sebanyak 570 mahasiswa Universitas Galuh resmi diterjunkan untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Konservasi dan Budaya Periode II Tahun Akademik 2025/2026 di Kabupaten Pangandaran. Pelepasan peserta KKN dilaksanakan di Lapangan Alun-alun Pendopo Parigi, Selasa (28/7/2026).

Mahasiswa akan melaksanakan pengabdian selama sekitar 40 hari di 18 desa yang tersebar di Kecamatan Cimerak dan Kecamatan Cigugur. Program ini mengusung tema Konservasi dan Budaya sebagai upaya mendorong pembangunan desa berbasis potensi lokal.

Mahasiswa KKN Universitas Galuh Ciamis.

Pelepasan peserta dilakukan oleh Asisten Daerah (Asda) III Sekretariat Daerah Kabupaten Pangandaran, Aep Haris. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa KKN merupakan fase pembelajaran nyata bagi mahasiswa karena mereka akan berhadapan langsung dengan berbagai persoalan di tengah masyarakat.

“Di kampus kita belajar dari teori. Ketika turun ke masyarakat, persoalan harus dicari, dipahami, lalu dicarikan jalan keluarnya. Itulah kampus sesungguhnya yang akan dihadapi mahasiswa selama 40 hari ke depan,” ujar Aep.

Menurutnya, pengalaman tersebut akan membentuk karakter mahasiswa menjadi lebih matang, memiliki kepekaan sosial, serta mampu menghadapi tantangan kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

Aep juga menilai mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agent of change atau agen perubahan. Bekal ilmu pengetahuan, kreativitas, dan kemampuan memanfaatkan teknologi digital diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya dalam mengembangkan potensi ekonomi desa.

Ia menyoroti masih banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memiliki produk berkualitas, namun belum mampu memasarkan produknya secara optimal melalui platform digital.

“Mahasiswa memiliki kemampuan yang mungkin belum dimiliki masyarakat, terutama dalam digital marketing, literasi digital, hingga promosi melalui media sosial. Ini menjadi peluang besar untuk membantu meningkatkan daya saing produk-produk unggulan desa,” katanya.

Selain mendampingi UMKM, mahasiswa juga diharapkan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, terlebih pelaksanaan KKN bertepatan dengan persiapan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Aep berharap setiap mahasiswa dapat memberikan kontribusi sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing. Mahasiswa pertanian, misalnya, dapat mendampingi petani dalam peningkatan produksi dan teknologi budidaya, sementara mahasiswa dari bidang pendidikan maupun ilmu lainnya dapat berkolaborasi sesuai kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, Wakil Rektor II Universitas Galuh, Dr. Hj. Jeti Rachmawati, Ir., M.P., mengatakan KKN menjadi salah satu sarana pembelajaran paling penting bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.

Menurutnya, teori yang dipelajari di bangku kuliah akan menghadapi tantangan berbeda ketika diterapkan di lapangan. Karena itu, mahasiswa dituntut mampu beradaptasi sekaligus belajar dari pengalaman masyarakat.

“Kami berharap mahasiswa tidak hanya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di kampus, tetapi juga belajar dari masyarakat. KKN menjadi wadah pembelajaran yang sangat penting untuk membentuk kompetensi, karakter, dan kepedulian sosial mahasiswa,” ujarnya.

Melalui program KKN Konservasi dan Budaya ini, Universitas Galuh berharap mahasiswa mampu menghadirkan berbagai inovasi, memberikan pendampingan kepada masyarakat, sekaligus menjadi mitra dalam menyelesaikan persoalan di tingkat desa.

Jeti menambahkan, Kabupaten Pangandaran memiliki potensi besar di sektor pertanian, perikanan, dan kelautan. Karena itu, mahasiswa diharapkan dapat membantu meningkatkan nilai tambah produk petani maupun nelayan melalui inovasi, pemanfaatan teknologi, serta pemasaran berbasis digital.

“Kami berharap keberadaan mahasiswa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, baik melalui inovasi, pendampingan, maupun pemberdayaan ekonomi lokal,” pungkasnya.

Program KKN Konservasi dan Budaya Periode II ini diharapkan tidak hanya menjadi wahana pembelajaran di luar ruang kelas, tetapi juga mampu memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mendorong pembangunan desa yang lebih inovatif, mandiri, dan berdaya saing.***

Exit mobile version