PANGANDARAN – Implementasi layanan bus pengumpan (shuttle bus) bagi wisatawan di objek wisata Pangandaran, Jawa Barat, menemui jalan buntu pada masa libur panjang Maret 2026. Kurangnya sosialisasi hingga minimnya jumlah armada membuat fasilitas yang digadang-gadang menjadi solusi kemacetan tersebut justru tidak berfungsi maksimal.
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami secara terbuka mengakui adanya kendala teknis dan manajerial dalam operasional layanan tersebut. Menurutnya, pemahaman wisatawan mengenai keberadaan fasilitas ini masih sangat rendah.
”Ini menjadi kekurangan dari pihak kami. Masih banyak wisatawan yang belum mengetahui adanya layanan shuttle bus. Akibatnya, banyak yang mengira harus berjalan kaki jauh ke lokasi wisata, padahal fasilitas transportasi sudah disediakan,” ujar Citra saat ditemui di sela pemantauan lapangan, Kamis (26/3/2026).
Ironi Solusi di Tengah Kemacetan
Persoalan memuncak pada Senin (23/3/2026) lalu, saat gelombang wisatawan mencapai titik tertinggi. Ironisnya, armada shuttle bus yang seharusnya menjadi solusi mobilitas justru terjebak dalam arus lalu lintas yang lumpuh total.
Volume kendaraan yang tidak seimbang dengan kapasitas jalan membuat waktu tunggu penumpang menjadi tidak terukur. Citra menjelaskan bahwa kondisi crowded di hari tersebut melumpuhkan skema transportasi yang telah dirancang.
”Shuttle bus pun ikut terkena macet. Hal ini yang membuat waktu tunggu menjadi sangat lama dan layanan tidak efektif,” tambahnya.
Ksatria Mengakui Kekurangan
Selain kendala kemacetan, ketimpangan rasio antara jumlah armada dan jumlah pengunjung menjadi persoalan pelik. Saat ini, Pemerintah Kabupaten Pangandaran hanya mengoperasikan 12 unit bus. Angka ini dinilai sangat kontras dibandingkan dengan lonjakan pengunjung yang sempat menyentuh angka 104.000 orang dalam sehari.
Secara ksatria, Citra “pasang badan” atas ketidaksiapan jajarannya dalam menghadapi anomali kunjungan tahun ini. Ia mengakui ada lubang besar dalam koordinasi antar-instansi terkait.
Jelas kurang seimbang antara 12 bus dengan ratusan ribu wisatawan. Sebagai pemimpin, saya yang salah. SDM kami mungkin masih kurang, dan koordinasi di lapangan saat itu memang kurang baik,” tegas Citra.
Langkah Perbaikan dan Rekayasa
Menyikapi kegagalan tersebut, Pemkab Pangandaran kini tengah merumuskan langkah perbaikan darurat. Petugas di lapangan diinstruksikan untuk lebih proaktif melakukan sosialisasi atau “woro-woro” di setiap titik kantong parkir agar wisatawan terinformasi dengan baik.
Selain itu, skema rekayasa lalu lintas satu arah (one way) kini dievaluasi secara ketat. Tujuannya adalah memberikan jalur prioritas bagi armada shuttle bus agar tidak lagi terjebak di tengah kepadatan kendaraan pribadi.
Meski dihujani kritik terkait infrastruktur pendukung, Citra tetap optimis bahwa tren pariwisata Pangandaran tahun ini berada di jalur yang benar dengan peningkatan kunjungan yang signifikan. Fokus pemerintah daerah kini tertuju pada pembenahan manajemen transportasi demi menjaga kenyamanan wisatawan di masa mendatang.***
