Indeks

Bupati Citra Pitriyani Hadiri HUT ke 6 RSUD Pandega Pangandaran

Bupati Citra Pitriyani Hadiri HUT ke 6 RSUD Pandega Pangandaran
Direktur RSUD Pandega Pangandaran Titi Sutiamah saat menyuapi kue ulah tahun kepada Bupati Citra Pitriyami.

PANGANDARAN – Bupati Citra Pitriyami menghadiri hari ulang tahun (HUT) ke 6, Rumah Sakit Umum Daerah Pangandaran Sehat dan Bahagia (RSUD Pandega).

Perayaan HUT ke 6 RSUD Pandega dihadiri oleh Bupati Citra Pitriyami, Anggota DPRD, Kapolres AKBP Ikrar Potawari, Dandim 0625 Pangandaran Letkol Czi Citra Kurniawan, Bupati pertama Jeje Wiradinata dan istri, Ida Nurlaela Wiradinata yang juga anggota DPR RI.

RSUD Pandega yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Pangandaran ini diresmikan pada tanggal 4 April 2020 oleh Gubernur Jawa Barat (Ridwan Kamil) secara virtual. Saat itu, Jawa Barat, Pangandaran khususnya tengah dilanda Pandemi Covid 19.

Dalam sambutannya, Bupati Citra Pitriyami menyampaikan, bahwa enam tahun merupakan waktu yang relatif singkat, tetapi langkah yang telah ditempuh oleh rumah sakit ini sudah sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Saat ini kita sudah memiliki berbagai layanan, seperti fasilitas cuci darah, dokter spesialis jantung, dan layanan kesehatan lainnya yang terus berkembang,” ujar Citra.

Citra mengatakan, jika sebelumnya masyarakat harus melakukan cuci darah ke kota lain, kini layanan tersebut sudah tersedia di rumah sakit ini, ke depan dirinya akan terus melengkapi fasilitas yang ada. Untuk dokter spesialis jantung saat ini sudah tersedia.

Setiap kritik yang masuk hendaknya menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan, oleh karena itu, dirinya mengajak seluruh rekan-rekan untuk lebih semangat dan disiplin, khususnya dalam hal waktu pelayanan, pukul 08.00 WIB pagi sudah harus siap memberikan pelayanan kepada pasien. Demikian juga dengan para perawat, harus mampu bekerja secara harmonis dan profesional dalam menangani pasien.

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Jeje selaku bupati sebelumnya yang telah membangun rumah sakit ini, sehingga kita saat ini tinggal melanjutkan dan merawatnya dengan sebaik-baiknya,” kata Citra.

Ia mengajak, untuk terus melakukan evaluasi dan perenungan terhadap hal-hal yang masih belum optimal, agar ke depan dapat menjadi lebih baik dalam melayani masyarakat, karena rumah sakit yang baik adalah rumah sakit yang mampu memberikan pelayanan yang maksimal serta menjaga kepercayaan masyarakat dengan sebaik-baiknya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, Yadi Sukmayadi menjelaskan, bahwa semangat Raksa Rahayu harus diwujudkan dalam pelayanan nyata kepada masyarakat.

“Raksa Rahayu bukan hanya slogan, tetapi komitmen untuk menjaga dan melindungi pasien dengan sepenuh hati. RSUD harus mampu memberikan pelayanan maksimal, melayani pasien dengan tulus, dan terus melesat menjadi lebih baik,” ungkapnya.

Di usia yang ke-6 ini, RSUD Pandega Pangandaran diharapkan terus melangkah maju, tidak hanya unggul dari sisi fasilitas dan teknologi, tetapi juga mampu menghadirkan pelayanan yang profesional, humanis, dan terpercaya.

“Semangat Raksa Rahayu diharapkan terus hidup dalam setiap langkah, menjadikan rumah sakit ini sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” tambahnya.

Direktur RSUD Pandega Pangandaran, dr. Titi Sutiamah, menyampaikan bahwa perjalanan enam tahun rumah sakit ini diwarnai berbagai tantangan sekaligus capaian dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan.

“Peringatan ini bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi momentum evaluasi bagi kami untuk terus memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan yang aman, nyaman, dan bermutu kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, melalui tema Raksa Rahayu dalam HUT ke-6 ini dipilih dengan harapan agar RSUD Pandega Pangandaran bisa menjadi rumah sakit yang hadir untuk melindungi, merawat dan menghadirkan keselamatan bagi setiap pasien, bukan hanya sebagai tempat berobat tetapi juga sebagai ruang harapan dan pemulihan.

“Apalagi sekarang, RSUD Pandega Pangandaran sudah ada layanan Hemodialisa dan sedang membangun gedung KJSU (Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrolog),” pungkasnya.

Sejarah Berdirinya RSUD Pandega Pangandaran

Bupati Pangandaran pertama, Jeje Wiradinata mengatakan, enam tahun silam, Kabupaten Pangandaran berdiri di persimpangan jalan terkait akses kesehatan. Tanpa fasilitas rumah sakit daerah yang memadai, warga pesisir selatan Jawa Barat ini kerap harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan layanan medis spesialis.

​Kini, dalam peringatan Hari Jadi ke-6 RSUD Pandega, Bupati Pangandaran periode 2016-2024, Jeje Wiradinata, kembali mengajak publik menengok ke belakang.

Jeje mengungkap kembali fase-fase krusial saat ia pertama kali memimpin kabupaten paling bungsu di Jawa Barat tersebut.

​”Saya ingat betul, awal menjabat yang saya pikirkan adalah kesehatan. Saat itu kita tidak punya rumah sakit. Puskesmas pun kondisinya memprihatinkan dan jumlah dokter spesialis bisa dihitung jari,” ujar Jeje.

​Maka ​langkah besar yang diambil Jeje dengan mengalokasikan anggaran sebesar 180 miliar hingga 266 miliar rupiah untuk membangun gedung RSUD Pandega.

“Di tengah keterbatasan APBD, proyek ini sempat dipandang sebagai langkah yang berisiko tinggi,” ujarnya.

​Persoalan berikutnya yang tak kalah pelik adalah ketersediaan Sumber Daya Manusia (SDM). Jeje menyadari bahwa kemegahan gedung tidak akan bermakna tanpa kehadiran tenaga ahli. Ia pun mengambil kebijakan khusus dengan menggandeng universitas ternama untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis di Pangandaran.

​”Gedung sekeren ini tidak mungkin hanya diisi dokter umum. Kami memberikan insentif dan tunjangan yang layak (TPP) agar para spesialis mau mengabdi di sini. Ini titik krusial kedua yang harus kami lalui,” tuturnya.

​​Kepercayaan terhadap RSUD Pandega diuji secara nyata pada tahun 2020, tepat saat pandemi Covid-19 melanda dunia. Sebagai pendiri sekaligus kepala daerah, Jeje justru menjadi salah satu pasien yang harus dirawat intensif di sana selama sembilan hari.

​Ia mengungkapkan sempat ada usulan untuk merujuknya ke rumah sakit yang lebih besar di Bandung. Namun, Jeje memilih menolak.

​”Kalau bupatinya saja tidak percaya pada rumah sakitnya sendiri, bagaimana dengan masyarakat? Saya putuskan, hidup atau mati, saya tetap ingin dirawat di Pandega. Ini soal kepercayaan publik yang harus dijaga,” kata Jeje.

​​Maka dirinya menitipkan pesan kepada jajaran direksi, dokter, dan seluruh karyawan RSUD Pandega. Ia menekankan bahwa tantangan ke depan bukan lagi soal infrastruktur, melainkan menjaga ritme kerja dan integritas pelayanan. ​Ia mendorong seluruh staf untuk berani melakukan autokritik demi perbaikan kualitas layanan.

“Modal utamanya adalah kekompakan. Ulang tahun harus menjadi momen perenungan, apakah kita sudah memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat?” ucapnya.

​Hingga usia keenamnya, RSUD Pandega kini telah bertransformasi menjadi tulang punggung layanan kesehatan di Pangandaran, sebuah bukti bahwa komitmen yang tepat dapat mengubah wajah pelayanan publik di daerah.

Acara dilanjutkan dengan pemotongan kue oleh Direktur RSUD Pandega Dr.dr Titi Sutiamah, sekaligus pemberian penghargaan kepada sejumlah tenaga pelayanan kesehatan termasuk beberapa puskesmas yang ada di Kabupaten Pangandaran.***

Exit mobile version