Indeks

Cegah Keterlambatan Tumbuh Kembang Anak, RSUD Pandega Ingatkan Batasan Gawai

Cegah Keterlambatan Tumbuh Kembang Anak, RSUD Pandega Ingatkan Batasan Gawai

PANGANDARAN — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandega Pangandaran menggelar penyuluhan kesehatan bertajuk “Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak” dalam program rutin Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan (Ngobras) pada Kamis, [Sebutkan Tanggal Kegiatan]. Acara ini membedah panduan deteksi dini gangguan perkembangan anak usia 0–2 tahun hingga dampak paparan gawai berlebih.

Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran, Imam Permana Hakim, A.Md.F.T., menyatakan pentingnya orang tua membedakan konsep pertumbuhan dan perkembangan sejak dini. Pertumbuhan berkaitan dengan penambahan fisik kuantitatif seperti berat dan tinggi badan, sementara perkembangan mencakup pematangan fungsi organ, emosi, motorik, serta kecerdasan.

​”Jika target perkembangan anak meleset dari standar usia, orang tua jangan menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat atau dokter spesialis anak,” ujar Imam saat menyampaikan materi.

​Waspadai Keterlambatan Motorik dan Bahaya Gawai

​Dalam paparannya, Imam merinci sejumlah tonggak perkembangan (milestone) yang patut dipantau orang tua:

– Respons Rangsang Awal: Bayi usia 0–1 bulan semestinya merespons rangsangan suara atau lambaian tangan di depan mata. Ketidakmampuan melirik patut dicurigai sebagai gangguan sensorik.
– ​Kemampuan Tengkurap: Bayi usia 3 bulan idealnya sudah mulai belajar tengkurap. Bila menginjak usia 6 bulan anak masih belum mampu tengkurap atau berguling mandiri, pemeriksaan medis harus segera dilakukan.
– ​Perkembangan Bicara: Memasuki usia 2 tahun, anak setidaknya mampu merangkai 2 hingga 3 kata sederhana seperti memanggil atau meminta makan.

Imam menyoroti maraknya kasus speech delay atau keterlambatan bicara akibat paparan gawai tanpa pengawasan. Penggunaan ponsel berlebih memicu anak meniru kosakata tontonan secara pasif tanpa memahami konteks interaksi sosial, yang berujung pada tantrum dan risiko perundungan di lingkungannya.

​”Memberikan gawai untuk melatih motorik halus dan koordinasi mata-tangan diperbolehkan, asalkan dibatasi maksimal 2 hingga 4 jam sehari dengan pendampingan penuh,” kata dia.

​Terapkan Prinsip Asah, Asih, dan Asuh

​Untuk memaksimalkan potensi anak, orang tua diimbau memenuhi tiga kebutuhan dasar:

– Kebutuhan Fisik (Asuh): Meliputi asupan gizi seimbang, pemberian ASI, imunisasi rutin, serta perawatan kebersihan lingkungan anak.
– ​Kebutuhan Emosi (Asih): Kehangatan dan kasih sayang intensif guna mencegah sindrom deprivasi maternal, yang kerap memicu trauma mental dan gangguan perilaku.
– ​Kebutuhan Stimulasi (Asah): Pelibatan aktif dalam interaksi sosial, stimulasi kecerdasan, dan permainan kreatif.

​Imam menegaskan, kedekatan emosional bukan hanya tugas ibu. Keterlibatan figur ayah, meski hanya 30 menit hingga 1 jam sehari melalui sentuhan fisik atau obrolan sebelum tidur, sangat menentukan kestabilan mental dan rasa percaya diri anak di masa depan.

Bagi masyarakat yang mendapati kejanggalan pada tahap perkembangan buah hati, konsultasi awal dapat dilakukan melalui posyandu, puskesmas, atau poliklinik anak di RSUD Pandega Pangandaran.***

Exit mobile version