Indeks

RSUD Pandega Edukasi Pasien Cuci Darah: Kunci Hindari Bahaya Kelebihan Cairan

RSUD Pandega Edukasi Pasien Cuci Darah: Kunci Hindari Bahaya Kelebihan Cairan

PANGANDARAN — Instalasi Dialisis RSUD Pandega Pangandaran menggelar sesi edukasi kesehatan khusus bagi pasien cuci darah (hemodialisis) beserta keluarganya. Mengusung tema “Tetap Segar Tanpa Sesak: Strategi Cerdas Mengatur Asupan Cairan Harian Pasien Hemodialisis”, acara ini bertujuan membekali pasien pemahaman tentang bahaya kelebihan cairan tubuh atau overhidrasi.

​Acara interaktif ini menghadirkan supervisor dialisis sekaligus dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi (Sp.PD-KGH), dr. Dede Satya Sukmana, didampingi dokter spesialis penyakit dalam RSUD Pandega, dr. Erisanti Nurfarida, Sp.PD.

​Risiko Overhidrasi bagi Pasien Hemodialisis

​Dalam paparannya, dr. Dede mengingatkan bahwa pasien yang menjalani hemodialisis memiliki keterbatasan dalam membuang kelebihan cairan dari tubuh. Kondisi kelebihan cairan yang menumpuk dapat memicu komplikasi fatal dalam jangka pendek maupun panjang.

”Kalau cairan berlebih, jantung dipaksa memompa lebih kuat dan cepat. Lama-kelamaan dinding otot jantung menebal hingga membesar (kardiomegali), lalu berujung pada gagal jantung,” kata Dede di hadapan puluhan pasien, Senin.

​Ia menambahkan, penumpukan cairan juga menyebabkan tekanan darah melonjak tajam (hipertensi dependen cairan), bengkak pada kaki, kram otot saat proses cuci darah, hingga perendaman paru-paru (edema paru) yang ditandai dengan sesak napas saat berbaring lurus telentang.

Rumus Menghitung Asupan Cairan Harian

​Untuk menjaga keseimbangan volume cairan tubuh, Dede menekankan pentingnya mengetahui volume urine 24 jam yang masih diproduksi oleh ginjal (residual renal function).

​Batas aman konsumsi cairan harian pasien dihitung melalui rumus:

Volume urine 24 jam + 500 mililiter (insensible water loss/IWL)

​Artinya, jika seorang pasien masih mampu membuang urine sebanyak 900 ml per hari, maka asupan cairan yang diizinkan mencapai 1.400 ml. Sebaliknya, bila urine yang keluar hanya 300 ml, batas maksimal konsumsi cairan tidak boleh melampaui 800 ml sehari.

​Selain menghitung cairan masuk, kenaikan berat badan antar-sesi dialisis (Interdialytic Weight Gain atau IDWG) dianjurkan tidak melampaui 3 persen dari berat badan kering (berat badan tanpa penumpukan cairan usai dialisis).

Strategi Mengendalikan Rasa Haus

​Membatasi minum sering kali memicu keluhan haus berlebih, terlebih di wilayah dengan cuaca pesisir yang terik seperti Pangandaran. Dede membagikan sejumlah langkah taktis bagi pasien:

– ​Hisap Es Batu atau Irisan Lemon: Mengulum es batu kecil atau permen bebas gula efektif membasahi mulut tanpa menambah volume air secara signifikan.
​- Kumur dan Semprot: Menggunakan botol semprotan air untuk rongga mulut atau sekadar berkumur saat haus terasa menusuk.
​- Gunakan Wadah Terukur: Siapkan botol air khusus berpenanda batas mililiter sesuai kuota harian agar asupan cairan terkontrol rapi dari pagi hingga malam.
– ​Kurangi Garam dan Makanan Olahan: Garam dan bumbu instan memicu rangsangan haus yang ekstrem sekaligus menahan retensi air dalam pembuluh darah. Beralihlah ke rempah-rempah herbal alami seperti bawang merah, jahe, atau ketumbar.
– ​Pisahkan Kuah Sayuran: Saat makan sayur berkuah, ambil bagian serat/sayurnya saja dan hindari menyeruput kuahnya.

Dede juga menegaskan pentingnya peran keluarga di rumah untuk tidak menyajikan hidangan es manis di depan pasien demi menjaga kenyamanan mental serta kedisiplinan diet pasien selama menjalani terapi cuci darah.***

Exit mobile version