PANGANDARAN — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandega Pangandaran kembali menggelar program edukasi kesehatan bertajuk NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan) pada Kamis, 6 Agustus 2026. Berlokasi di Ruang Tunggu Poliklinik Lantai 3 RSUD Pandega Pangandaran dan disiarkan langsung melalui Instagram Live, acara ini mengangkat topik spesifik “Bahaya Anemia pada Anak”.
Dalam sosialisasi tersebut, dr. Jenni Mutiara Saragih, Dokter Umum RSUD Pandega Pangandaran, hadir sebagai pembicara utama untuk memaparkan pentingnya deteksi dini serta pemenuhan nutrisi agar anak terhindar dari risiko anemia defisiensi besi, terutama saat memasuki masa Makanan Pendamping ASI (MPASI).
Pentingnya MPASI Berbahan Dasar Protein Hewani
Seiring bertambahnya usia anak, kebutuhan zat besi meningkat pesat dan tidak lagi dapat tercukupi hanya dari ASI. Oleh karena itu, porsi MPASI harus dioptimalkan dengan bahan-bahan yang kaya akan zat besi.
”Mulai usia 6 bulan, porsi MPASI harus lebih besar karena kandungan zat besi dalam ASI berkurang seiring bertambahnya usia anak,” ujar dr. Jenni dalam pemaparannya.
Beberapa sumber pangan dengan kadar zat besi tinggi (kasta tertinggi) yang mudah didapat dan terjangkau antara lain:
– Hati Ayam: Mengandung sekitar 15,8 mg zat besi per 100 gram.
– Ikan Kembung, Teri, dan Telur Ayam: Sumber protein hewani lokal yang sangat bernutrisi.
– Daging Sapi, Kerang, dan Udang: Pilihan sumber zat besi hewani berkualitas tinggi lainnya.
Edukasi ini mengikis persepsi bahwa makanan bergizi untuk anak harus mahal. Bahan pangan lokal seperti hati ayam dan ikan kembung terbukti memiliki tingkat penyerapan zat besi yang sangat tinggi.
Kombinasi Nutrisi dan Penghambat Penyerapan Zat Besi
Selain pemilihan bahan makanan, cara penyajian MPASI juga menentukan efektivitas penyerapan zat besi di dalam tubuh anak:
- Pentingnya Vitamin C: Konsumsi zat besi sangat disarankan dipadukan dengan sumber Vitamin C (seperti jeruk, stroberi, atau tomat) karena dapat meningkatkan penyerapan zat besi secara signifikan.
– Waspadai Penghambat Penyerapan (Inhibitor): Makanan atau minuman seperti cokelat, produk olahan kedelai (susu kedelai, tahu, tempe), serta teh dapat menghambat penyerapan zat besi jika dikonsumsi bersamaan.
“Jika ingin memberikan makanan yang mengandung inhibitor penyerapan zat besi, berikan jeda minimal 1 hingga 2 jam dari waktu makan utama agar penyerapan zat besi dari nutrisi hewani tetap optimal,” jelas dr. Jenni Mutiara Saragih.
Dampak Anemia pada Tumbuh Tumbuh Tumbuh Anak
Anemia defisiensi besi pada anak tidak boleh diabaikan. Pasalnya, hemoglobin berfungsi mengikat dan mendistribusikan oksigen ke seluruh tubuh, termasuk otak.
Anak yang mengalami anemia berisiko mengalami:
– Gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik (berat badan sulit naik).
– Lemas, kurang aktif, dan penurunan daya konsentrasi belajar.
– Dampak kesehatan jangka panjang hingga usia remaja dan dewasa.
Untuk anak perempuan remaja, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin seminggu sekali juga dianjurkan guna mencegah bahaya anemia akibat kehilangan darah saat masa menstruasi.
Layanan Informasi RSUD Pandega Pangandaran
Bagi masyarakat yang membutuhkan informasi kesehatan lebih lanjut atau layanan darurat, RSUD Pandega Pangandaran menyediakan akses saluran komunikasi resmi berikut:
– Emergency Call (IGD): (0265) 7503045
– Information Center: (0265) 7503044
– WhatsApp Humas: 0821-2005-6071
- Laman Resmi: rsudpandega.pangandarankab.go.id
– Media Sosial: Instagram/TikTok/Facebook @rsud_pangandaran / RSUD Pandega Pangandaran
