PANGANDARAN TODAY – Seorang siswi Sekolah Dasar di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat rela berjualan di sekolah demi membantu ekonomi neneknya.
Tanpa rasa malu, sebelum mengikuti kegiatan belajar mengajar maupun saat jam istirahat, Khoenunisa berkeliling ke setiap kelas hingga ruang guru untuk menawarkan dagangannya.
Khoenunisa adalah siswi kelas 5 SD Negeri 2 Kalipucang yang tinggal di Dusun Girisetra, Desa Kalipucang, Kecamatan Kalipucang, Kab Pangandaran. Setiap hari ia selalu membawa dagangannya berupa sate kerang (totok) untuk dijual di sekolah tempat dirinya menimba ilmu.
Khoenunisa selalu datang lebih awal dibandingkan teman-temannya. Hal ini dilakukannya agar dapat berjualan sebelum jam pelajaran dimulai. Jika dagangannya belum habis, Khoenunisa kembali berkeliling saat jam istirahat dengan masuk ke setiap ruang kelas dan ruang guru dengan niat bisa membantu neneknya.
Kisah pelajar siswi yang berjualan sate kerang di SDN 2 Kalipucang yang viral di media sosial itu menjadi perhatian berbagai pihak, terutama Bupati Pangandaran Citra Pitriyami.
Setelah menerima informasi, Bupati Citra Pitriyami didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kab Pangandaran Soleh langsung mendatangi SDN 2 Kalipucang, dimana Khoenunisa mengenyam pendidikan.
Pada kesempatan itu, Bupati Citra berbincang-bincang dan memborong sate kerang yang dibawa Khoenunisa, lalu membagikannya ke siswa-siswi SDN 2 Kalipucang. Tidak hanya itu, Bupati juga membagikan buku dan alat tulis ke tiap-tiap kelas.
Dikarenakan Khoenunisa mengaku hanya memiliki satu seragam sekolah saja, maka Bupati mengajaknya ke pasar untuk membelikan baju seragam dan sepatu.
Bupati Pangandaran Citra Pitriyami mengatakan, setelah bertemu dan menanyakan perihal kabar seorang siswi jual sate kerang di sekolah, ternyata Nisa (panggilan Khoenunisa) memang hobi berjualan.
“Ya tentu saya senang dan apresiasi, anak sekecil Nisa sudah berani membantu neneknya untuk berjualan sate toe,” ujar Bupati Citra, Senin, 9 Februari 2026.
Namun kata Bupati, Ica mengaku hanya memiliki satu seragam sekolah, maka ia mengajak Ica ke pasar untuk membelikan baju seragam.
“Karena katanya baju seragam nya cuma ini doank,” ujar Bupati Citra.
Sementara Khoenunisa mengaku senang bisa bertemu dengan Bupati Pangandaran dan memborong sate toe milik neneknya dan membelikan baju seragam serta sepatu.
Menurut pengakuan Khoenunisa, keputusannya berjualan di sekolah dilakukan atas keinginannya sendiri. Selain untuk belajar mandiri, hasil jualannya digunakan untuk membantu neneknya membeli kebutuhan sehari-hari, terutama beras.
“Saya jualan supaya bisa bantu nenek beli beras. saya senang bisa sekolah dan sekaligus bantu nenek,” ujar Khoenunisa.
Kata dia, berjualan sate kerang merupakan keinginannya, dalam setiap harinya kadang 40 sampai 50 tusuk dengan harga per tusuknya 1 ribu rupiah.***
