PANGANDARAN TODAY – Perayaan Hajat Laut yang rutin digelar setiap 1 Muharram di Kabupaten Pangandaran tidak hanya dimaknai sebagai tradisi budaya tahunan. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, menegaskan kegiatan tersebut juga menjadi momentum evaluasi bagi kehidupan dan kesejahteraan nelayan.
Menurut Jeje, tradisi yang telah berlangsung turun-temurun itu memiliki tiga pilar utama, yakni rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan, semangat hijrah menuju perbaikan, serta upaya pelestarian budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat pesisir Pangandaran.
Pilar pertama diwujudkan melalui tasyakur bini’mah atau ungkapan syukur atas keselamatan dan hasil tangkapan yang diperoleh nelayan selama setahun terakhir. Ia menyebut nelayan Pangandaran patut bersyukur karena mampu menjalankan aktivitas melaut dengan tingkat keselamatan yang baik serta hasil tangkapan yang tetap memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.
“Kita tidak pernah menanam udang atau memberi makan ikan di laut, tetapi tetap mendapatkan hasil yang luar biasa. Karena itu, kita menggelar istigasah dan doa bersama sebagai bentuk rasa syukur,” ujar Jeje.
Selain menjadi ajang doa bersama, Hajat Laut juga dimanfaatkan sebagai sarana evaluasi terhadap berbagai aspek kehidupan nelayan. Mulai dari tata kelola usaha perikanan, hasil penjualan ikan harian, hingga kondisi tabungan nelayan akan menjadi bahan kajian untuk melihat perkembangan sektor perikanan selama setahun terakhir.
Menurutnya, hasil evaluasi tersebut nantinya akan menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan pihak terkait guna menjaga keberlanjutan ekosistem perikanan serta meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Pada pilar ketiga, HNSI Pangandaran berupaya mengembalikan nilai-nilai budaya lokal melalui pelestarian kesenian tradisional. Jeje menilai masyarakat perlu kembali mengangkat warisan budaya asli Pangandaran, khususnya kesenian Ronggeng Gunung yang memiliki keterkaitan dengan legenda Dewi Samboja atau Dewi Rengganis.
Ia berharap kesenian tersebut dapat terus dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya daerah yang harus dijaga keberlangsungannya.
Selain menampilkan kesenian tradisional, rangkaian Hajat Laut juga akan dimeriahkan berbagai kegiatan khas masyarakat nelayan, seperti lomba renang laut dan balap perahu yang telah menjadi bagian dari tradisi sejak lama.
Jeje meyakini penyelenggaraan Hajat Laut mampu memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata daerah. Event budaya tersebut dinilai dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran, sekaligus melengkapi agenda wisata tahunan selain libur Tahun Baru dan Idulfitri.
Ia menambahkan, kesuksesan penyelenggaraan Hajat Laut merupakan hasil kolaborasi antara nelayan, pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Jeje juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan, termasuk Susi Pudjiastuti yang memberikan dukungan untuk hadiah perlombaan.
Menurut Jeje, total hadiah yang disiapkan mencapai hampir Rp150 juta dan akan diberikan kepada para peserta berbagai perlombaan yang digelar selama perayaan Hajat Laut berlangsung.
“Di mana ada laut, pasti ada nelayan. Kalau ada nelayan, pasti ada ikan. Dan ikan menjadi bagian penting dalam pemenuhan gizi kehidupan kita,” katanya.***






